Kategori
Tak Berkategori

Film Korea dan Kebaperan Yang Memuncak

By: Obet

Salam wahai sahabat yang tiap harinya terus dilanda kegalauan, penyesalan dan kepenakan hidupnya. Di awal ocehan singkat ini, sebagaimana judul yang coba di angkat oleh penulis pada tulisan ini. Semoga di masa New Normal ini kita tetap dalam suasana santai dan mesrah bersama sejawat, bersama kekasih sehingga kita tidak terbuai dalam situasi yang serba penat.

Hidup memang butuh suasana tidak menegangkan , rileks nan menikmati segala apa yang sudah tersedia di dunia yang milenial ini. Segala pendam , ketidaksenangan dengan sesama dan kecemburuan, kita tinggalkan bersama waktu yang berlalu begitu cepat. Agarnya kita melakoni hidup ini dengan sikap yang responsif dan tanpa ada luka yang merajam pada setiap asa hidup kita.

Para pembaca milenial yang budiman, di tengah kehidupan dunia perfilmman yang kian tak terbendung. Kompetisi untuk mendapat simpati dan empati di dunia film terus memuncak. Apa sebabnya ? tentu sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari efek globalisasi. Kita kalangan milenial kadang mudah terbuai dalam kekalutan dunia dan terpengaruh oleh aksi – aksi romantis film korea.

Penulis tentu bukan tidak senang dengan setiap episode menarik nan membuncah dari setiap lakon yang di mainkan oleh pemain drama korea. Tetapi kita mesti mampu menarik kesimpulan setiap film yang dilakonkan, bukan malah kita kebaperan dengan aksi – aksi yang sensasional yang berefek kebaperan nan memuncak.

Bercengkerama dengan alam yang memberi kita kehidupan justru lebih berfaedah ketimbang bercengkerama dengan film – film korea yang justru menghabiskan aktivitas kita untuk bertemu pacar , berpadu mesrah dengan kekasih di dunia nyata.

Deretan aksi – aksi romantis yang disuguhkan mulai dari cara senyumnya lelaki korea sampai pada saat mereka berpeluk erat dengan sedikit kecup nan etis. Baik kalau menonton bersama kekasih di gubuk sunyi nan mencekam. Sehingga aksi heroik di film itu pun langsung dilakonkan dengan gerakan tubuh yang sedikit tak berdaya. Kalaupun tidak, bisa saja ekspresi sang penonton sontak membongkar kedunguan yang tak berujung.

Turut menyelam dalam bujuk rayu dengan bahasa tubuh yang elok di lakonkan perempuan korea, seakan dunia milik sang penonton yang tanpa tahu dan maunya ikut tercembur dengan kata – kata yang alai dan tidak mendewasakan. Di balik keangggunan yang di lakonkan ada kebinalan yang sontak tanpa sadar di ekspresikan oleh penonton sendiri.

Seolah aksi keperempunannya ikut memberikan efek kebaperan kepada perempuan di era sekarang yang suka menonton film korea setiap harinya. Ada tersimpan keberlebihan memuncak yang sering penulis temukan pada setiap perempuan yang suka menonton film korea itu sendiri. Apalagi kelaki – lakian sang pelakon laki – laki di film itu sepertinya ikut mempengaruhi kaum hawa agar kiranya kekasihnya di dunia nyata seperti seorang lelaki yang ada di film korea tersebut.

Bagi penulis , ada kekonyolan liar dan luar biasa yang termaktub dalam diri seorang penonton perempuan di era yang milenial ini. Tersipu malu ketika hidupnya tidak menemukan suasana romantis dengan kekasihnya di dunia nyata.

Biarkan ocehan ini menghibur pembaca sekalian dan jangan biarkan kabaperan memuncak di tengah keasyikan menonton film korea.